Tugas 1 Psikoterapi

30 Mar

1. a. Pendekatan psikoanalisa di dalam psikoterapi

Manusia pada hakikatnya ditentukan oleh kekuatan psikis dan pengalaman masa lalunya. Dorongan yang tidak disadari dan konflik-konflik yang terjadi di masa lalu adalah sesuatu yang penting pada keadaan perilaku saat ini. Perkembangan awal sangat penting, karena masalah kepribadian yang dihadapi sekarang ini, bersumber pada konflik-konflk yang ditekan ketika kecil. Teknik psikoanalisa ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Freud mencoba menjelajahi alam ketidaksadaran melalui wawancara yang disebutnya sebagai asosiasi bebas (Corey, 2005). Di dalam teknik asosiasi bebas ini, pasien diwawancarai sampai menemukan sumber masalahnya yang biasanya terdapat di dalam alam ketidaksadarannya. Psikoanalisa menunjukkan bahwa dunia ketidaksadaran adalah dunia psikis yang teramat luas sekaligus sangat bernilai. Secara umum, apa yang dijumpai dalam bawah-sadar dapat dipetakan menjadi dua bagian:

  • Bawah-sadar berisi ingatan akan berbagai informasi yang di masa silam, berisi banyak pengalaman traumatis yang direpresi atau ditekan secara tidak sadar.
  • Kejadian yang sempat terekam, bila diterima dengan baik, maka akan mengalirkan energy positif yang dapat mentransformasikan seseorang menjadi pribadi yang lebih sehat

Kelemahan dari teknik ini adalah bahwa proses penyembuhan bisa berlangsung bertahun-tahun.

b. Pendeketan psikologi belajar di dalam psikoterapi

Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku manusia merupakan hasil belajar.  J.B Watson, adalah tokoh psikologi belajar yang menyatakan bahwa perilaku bisa dihambat atau ditimbulkan dengan memberi reinforcement (ganjaran) yang positif (untuk mendorong) atau negatif (menghambat). Teknik ini digunakan untuk mengatasi phobia, caranya adalah mendekatkan benda yang ditakuti itu dengan hal-hal yang menyenangkan klien sehingga timbul hubungan positif antara benda yang ditakuti dengan hal yang menyenangkan  dan lama kelamaan fobia bisa hilang. Dua konsep penting dalam psikologi belajar, yaitu pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Pemikiran kedua tokoh ini membantu dalam memahami proses induksi (proses pengantar klien sampai tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans).

Kelemahan teknik ini adalah sewaktu-waktu bisa timbul kembali kalau trauma (peristiwa yang tidak dikehendaki), atau jika persoalan intinya belum terpecahkan bisa muncul dalam gejala atau keluhan lain).

c. Pendekatan psikologi humanistik di dalam psikoterapi

Pendekatan ini disebut juga dengan client centered therapy. Teknik ini dianjurkan oleh Carl Rogers, yang beranggapan bahwa semua orang punya aspek positif di dalam dirinya. Psikoterapis bertugas membantu klien menelusuri potensi positif di dalam dirinya, agar dia bisa mengembangkan dirinya secara positif dan meninggalkan gejala-gejal gangguan mentalnya.

Menurut Rogers, setiap orang punya dorongan untuk memandang dirinya secara positif, dan juga menekankan  pentingnya penerimaan positif tanpa syarat dalam proses terapeutik, klien harus diterima apa adanya tanpa syarat dan penilaian. Psikologi humanistik berfokus pada pada sisi sehat kepribadian manusia dengan mengembangkan penerimaan positif tanpa syarat dan empati.

d. Pendekatan psikologi kognitif di dalam psikoterapi

Lingkungan  sangat potesial menyebabkan seseorang mengembangkan kepercayaan negative dalam melihat berbagai kejadian. Dalam pendekatan ini, semua emosi negative terhadapa sesuatu benda atau hal tertentu, dibahas tuntas secara rasional, sampai akhirnya klien tidak lagi melihat alasan mengapa ia harus beremosi negative dan mengubah perilakunya menjadi lebih positif. Orientasi utama psikologi kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir dan merasa di saat ini.

Terapis dengan pendekatan kognitif mengajar pasien atau klien agar berpikir lebih realistik dan sesuai sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau mengurangi gejala yang berkelainan.

  1. Kasus yang bisa ditangani dengan:

a. Psikodinamik

Seorang klien yang ketika kecil sering  melihat ayahnya memarahi dan memukul kakaknya hanya karena masalah kecil, salah satunya seperti lupa mengunci pagar, membuat klien tersebut selalu mengingat perlakuan ayahnya tersebut, dan membuat klien memendam  rasa benci kepada ayahnya. Klien mencoba melupakan, namun ternyata belum bisa Ketika klien tumbuh dewasa, klien menjadi pribadi yang agresif dan egois. Ketika klien diperiksa oleh terapis, sang terapis mencoba menggali sumber masalah dengan menggunakan teknik asosiasi bebas, sehingga klien dibiarkan meluapkan perasaannya.

b. Behavioristik

Seorang klien yang memiliki phobia terhadap buah rambutan. Phobia buah rambutan ini berawal ketika klien sedang bermain dengan temannya, dan temannya tersebut melempari klien dengan buah rambutan, klien kaget dan berteriak karena melihat buah rambutan yang bulat, kecil dan memiliki (seperti) rambut-rambut yang membuat geli klien. Hingga klien dewasa, klien tidak pernah mau memegang bahkan melihat buah rambutan

c. Humanistik

Seorang klien anak SMA, kehabisan uang jajan karena sikapnya yang konsumtif. Suatu saat klien diajak pergi ke restoran oleh teman-temannya. Sebenarnya klien tidak punya uang, dan jika meminta kepada orangtuanya, orangtua klien tidak akan memberi karena klien telah menghabiskan uang jajan dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun, karena ingin ikut ajakan teman-temannya tersebut, dan takut dijauhkan teman-temannya karena tidak ikut, maka klien memutuskan untuk mengambil uang di dalam tas Ibunya sehingga klien bisa ikut pergi bersama teman-temannya. Namun klien merasa ada pertentang batin, klien merasa sedikit bersalah dan sadar akan perbuatannya.

d. Kognitif

Seorang klien yang merasa minder dan tidak percaya diri karena selalu diolok-olok temannya karena memiliki tubuh yang gemuk. Padahal klien adalah orang yang pintar di kelasnya, seharusnya klien bisa menonjolkan kepintarannya dibandingkan dengan ketidakpercayaan dirinya. Akibatnya, hal tersebut dibesar-besarkan di dalam skema kognitifnya, sehingga klien menjadi orang yang minder dan pemalu karena merasa dirinya jelek dan tidak berguna. Dalam pendekatan kognitif, kepercayaan negative tersebut harus diubah dengan dibawa ke arah kepercayaan positif.

  1. Pandangan mengapa kasus-kasus di atas dapat ditangani dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut:

a. Psikodinamik

Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan psikodinamik karena dalam pendekatan tersebut, manusia ditentukan oleh kekuatan psikis di masa lalunya, sehingga perilaku saat ini merupakan dorongan atau konflik dari masa lalu. Maka dari itu, terapis perlu mengetahui sumber awal masalahnya, yaitu dengan cara teknik asosiasi bebas, sehingga klien dapat mengungkapkan konflik masa lalunya yang berasal dari alam bawah sadar yang direpresi secara secara tidak sadar. Setelah asosiasi bebas, klien diharapkan dapat mengeluarkan isi hati yang mengganjal dan merasa lega.

b. Behavioristik

Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan behavioristic karena dalam pendekatan tersebut, perilaku manusia adalah hasil dari belajar, maka klien takut rambutan tersebut belajar untuk tidak takut dengan rambutan dengan cara memberi sugesti positif kepada klien bahwa rambutan bukanlah sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan. Klien ditunjukkan gambar rambutan dari jarak yang jauh, meskipun klien terlihat cemas, terapis berusaha menenangkan dan tetap memberi sugesti positif hingga gambar tersebut berada sangat dekat dengan klien. Ketika klien sudah tidak merasa cemas dengan gambar tersebut, maka mulai diperlihatkan wujud asli buah rambutan hingga klien berani menyentuh buah rambutan tersebut.

c. Humanistik

Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan humanistic karena dalam pendekatan tersebut, manusia dianggap dapat menemukan jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini, terapis hanya mengarahkan klien untuk menyelesaikannya, klien dibiarkan menemukan jalan keluarnya sendiri. Sebenarnya, terapis secara tidak langsung memberi arahan kepada klien bagaimana jalan keluar yang tepat,  namun terapis tidak akan memberi tahunya, hingga klien menyadarinya sendiri.

d. Kognitif

Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan kognitif, karena dalam pendekatan tersebut, hal atau kepercayaan negatif yang ada di dalam pikiran atau kognitif kita, dibahas tuntas sehingga klien berpikir mengapa ia harus beremosi negative, dan peralahan mengubah pikiran dan perilakunya menjadi emosi dan perilaku yang positif.

Sumber:

Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers

Gunarsa, S. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia

Kahija, YF La. (2007). Hipnoterapi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: