Tugas 2 Kesehatan Mental: Stress dan Hubungan Interpersonal

23 Apr

A. Arti Penting Stress

Stress adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa cemas, khawatir, sedih, tertekan, dan merasa terancam karena ada suatu hal atau tujuan yang tidak bisa tercapai, atau ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Stress yang timbul pada setiap orang bisa berbeda-beda. Suatu peristiwa bisa membuat seseorang mengalami stress, namun bisa juga hanya menimbulkan stress ringan. Dampak stress tersebut juga dirasakan berbeda oleh setiap orang. Sebagian orang ada yang menganggap stress sebagai suatu tantangan, ada juga yang menganggap stress adalah pembawa kehancuran.

Beberapa tokoh memberikan pengertian terhadap stress:

  • J. P. Chaplin (kamus lengkap psikologi): stress sebagai satu keadaan tertekan, baik secara fisik, maupun psikologis
  • Atkinson (1983): stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya.
  • Lazarus (1999, dalam Rod Plotnik 2005:481): Stress adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.

 Secara umum, stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang.

B. Tipe-tipe Stress Psikologis

 Berikut adalah beberapa tipe stress:

  1. Stress ringan: ini adalah tipe stress yang harus dihadapi oleh setiap orang dari waktu ke waktu, seperti pertemuan, tenggang waktu dalam pekerjaan, atau ujian. Secara umum, tipe stress ini menguntungkan bagi kita karena menimbulkan antusiasme, semanat dan tekanan yang membantu kita untuk berkembang dan menjadi lebih aktif.
  1. Stress berlebihan: kita mengalami tipe ini saat menghadapi ketegangan yang terus menerus dan berlebihan. Penting untuk membatasi tekanan-tekanan eksternal agar kondisi mental dan fisik kita tidak terpengaruh
  1. Stress kronis: ketika mengalami stress ini, kita harus mencari pertolongan. Stress ini bersifat terus-menerus dan tidak sesuai dengan kehidupan yang sehat, dan terkadang kita sudah menjadi sangat terbiasa hidup di bawah tekanan eksternal yang kuat sehingga tidak menyadari bahwa kita menderita efek samping stress.

Menurut Maramis (1990), ada empat macam stress psikologis:

  1. Tekanan: keadaan yang menimbulkan konflik, dimana individu merasa dipaksa atau terpaksa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tekanan dapat bersumber dari dalam atau luar dirinya.
  1. Frustasi: suatu momen dimana individu menghayati situasi terhambat ketika melakukan upaya untuk mencapai apa yang diinginkan atau dituju. Reaksi frustasi ada dua macam, yaitu unfrustrated behavior (perilaku yang tidak terfrustasikan) dan frustrated behavior (perilaku yang terfrustasikan). Beberapa jenis frustasi:
  • Frustasi pribadi: frustasi ini akibat seseorang tidak dapat mencapai  tujuan pribadi dikarenakan kurangnya kemampuan atau banyaknya saingan
  • Frustasi lingkungan: frustasi ini akibat adanya hambatan yang ada di lingkungannya sehingga seseorang sulit untuk mencapai tujuannya.
  1. Konflik: terjadi apabila individu memilih dua atau lebih kebutuhan atau tujuan. Memilih yang satu berarti frustrasi terhadap yang lain. Kurt Lewin membedakan konflik menjadi empat macam:
  • Konflik approach-avoidance: konflik yang terjadi apabila ada dua atau lebih kebutuhan yang muncul secara bersamaan, yang memiliki nilai positif dan negative bagi diri individu.
  • Konflik avoidance-avoidance: konflik yang terjadi apabila dua atau lebih kebutuhan yang muncul semuanya secara bersamaan memiliki nilai yang negative bagi individu.
  • Konflik multiple approach-avoidance: konflik yang terjadi apabila dua atau lebih kebutuhan yang muncul secara bersamaanmemiliki nilai yang positif dan negative bagi individu.
  1. Kecemasan: merupakan suatu kondisi yang dihadapi seorang individu ketika menghadapi perubahan dalam hidupnya. Kecemasan terbagi menjadi tiga, yaitu:
  • Kecemasan neurotik: bukan kecemasan yang nyata, tetapi adalah kecemasan yang sebenarnya tidak akan terjadi, hanya perasaan saja.
  • Kecemasan moral: memiliki rasa takut akan suara hati jika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma hati atau bila ada sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Orang yang mengalami kecemasan ini cenderung berkembang secara baik jika merasa bersalah dalam melakukan hal yang salah
  • Kecemasan realitas: rasa takut akan bahaya nyata di luar sana.

C. Symptom-reducing response terhadap stress

 

Symptom-reducing response adalah reaksi mengurangi gejala stress. Lazarus membaginya menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Tindakan Langsung (Direct Action)

Usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Ada empat macam jenis tindakan langsung:

  • Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka

Tindakan yang dilakukan individu adalah melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan secara langsung keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, saya ingin nilai ujian saya bagus sehingga saya tidak akan merasa kecewa, maka dari itu, satu bulan sebelum ujian saya sudah mulai menyicil materi-materi ujian agar nanti nilai yang saya dapat tidak mengecewakan.

  • Agresi

Tindakan yang dilakukan individu dengan cara menyerang agen atau hal-hal yang dianggapnya mengancam kehidupannya. Misalnya seorang adik menginginkan permen yang sedang dipegang kakaknya, namun si kakak tidak mau memberikannya kepada si adik, maka ketika si adik mencoba meminta permen, si kakak langsung memukul adiknya agar si adik merasa sakit kemudia menangis dan akhirnya tidak mendapatkan permen tersebut. Si kakak merasa bahwa dirinya adalah anak paling besar, sehingga merasa memiliki kekuasaan dibandingkan si adik.

  • Penghindaran (Avoidance)

Tindakan ini dilakukan apabila ada hal-hal yang dianggap mengancam dan hal tersebut dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu yang merasa terancam akan menghindar atau melarikan diri. Misalnya seseorang yang terlilit hutang, melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari tagihan dari debt collector.

  • Apati

Merupakan tindakan atau pola yang dilakukan oleh orang yang putus asa. Individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja pihak-pihak yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan atau melarikan diri dari situasi yang mengancam. Misalnya orang-orang yang memilih golput pada pemilu, hal tersebut karena orang-orang tersebut sudah bingung, sudah tidak tahu, dan pasrah terhadap para aparat Negara yang dirasa tidak bisa memimpin Negara.

  1. Peredaan atau Peringanan

Usaha ini mengacu pada mengurangi atau menghilangkan atau menoleransi tekanan-tekanan fisik, motoric atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau dengan kata lain, individu, yang menggunakan usaha ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.

Ada dua jenis peredaan:

  1. Diarahkan pada gejala (Symptom Directed Modes)

Digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut, seperti dengan menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman beralkohol. Namun, tidak selamanya cara ini bersifat negatif. Melakukan relaksasi atau meditasi, juga termasuk ke dalam symptom directed modes yang bersifat positif.

  1. Cara Intrapsikis

Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan defense mechanism, yaitu:

  • Identifikasi

Menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam. Biasanya dilakukan oleh anak terhadap orangtua mereka.

  • Pengalihan (Displacement)

Memindahkan reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung.

  • Represi

Menghalangi impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku

  • Denial

Melakukan penolakan terhadap kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan.

  • Reaksi formasi

Dorongan yang mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Sebenernya kita tidak menyukai suatu hal, namun kita bertingkah laku seolah-olah kita menyukainya.

  • Proyeksi

Menerapkan dorongan-dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas.

  • Rasionalisasi

Membenarkan sesuatu yang pada kenyataanya merupakan sesuatu yang salah, namun tetap dilakukan demi alasan untuk kebaikan.

  • Sublimasi

Dorongan atau impuls yang ditransformasikan menjadi bentuk-bentuk yang diterima secara sosial sehingga dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda dari dorongan atau impuls aslinya.

D. Hubungan Interpersonal

 

  1. Model-model hubungan interpersonal

 

  1. Model Pertukaran Sosial

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang, karena orang lain mengharapkan sesuatu dari kita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dua orang tokoh, Thibault dan Kelley mengemukakan teori: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.

Ganjaran yang dimaksud adalah akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan, yang dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat negative dari suatu hubungan, seperti konflik dan keruntuhan harga diri.

  1. Model Peranan

     Model ini menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Setiap orang harus memainkan perannya sesuai dengan naskah dan scenario yang dibuat oleh masyarakat. Intinya, hubungan antar individu akan berkembang dengan baik bila setiap individu bertindak sesuai perannya.

  1. Model Interaksional

     Model ini memandang hubungan interpersonal yang memiliki sistem hubungan interpersonal yang saling tergantung satu sama lain dan memandang satu sama lain sebagai satu kesatuan. Semua sistem memiliki kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan tersebut.

  1. Pembentukan Kesan dan Ketertarikan Interpersonal

 

Kesan pertama adalah suatu  hubungan yang penting bagi kelangsungan suatu hubungan untuk ke depannya. Cara kita berbicara, cara memilih pemakaian kata atau kalimat, cara kita bersikap, serta kepercayaan diri kita adalah sebagian besar faktor pembentukan kesan

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal:

  • Karakter Pribadi

Daya tarik seseorang bagi orang lain, pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua hal, yaitu yang bersifat fisik (wajah, rambut, tubuh) dan yang bersifat non fisik (kepribadian, intelegensi, minat dan hobby), para ahli mengidentifikasikan beberapa karakter umum yang mempengaruhi rasa suka seseorang kepada orang lain yaitu ketulusan, kehangatan personal,  kompetensi, dan daya tarik fisik.

  • Kesamaan

Kita cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sikap, nilai, minat, hoby, latar belakang, dan kepribadian.

  • Keakraban

Menurut Atkinson dkk. (1993) salah satu alasan bahwa kedekatan dapat menimbulkan rasa senang pada seseorang adalah bahwa kedekatan dapat mningkatkan keakraban.

  • Kedekatan

Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan daya tarik interpersonal:

–       pertama, kedekatan biasanya meningkatkan keakraban.

–       Kedua, kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan. Kita seringkali memilih untuk tinggal dan bekerja dengan orang lain yang kita kenal, dan selanjutnya kedekatan geografi kita akan meningkatkan kesamaan kita.

–       ketiga adalah bahwa orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat dari pada orang yang jauh (Sears dkk. 1992).

  1. Intimasi dan Hubungan Pribadi

 

Secara harafiah, intimasi dapat diartikan sebagai kedekatan atau keakraban dengan orang lain. Menurut Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1998) intimasi merupakan suatu bentuk hubungan berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi.

Proses intimasi memerlukan unsur perasaan bersatu dengan orang lain. Kebutuhan untuk bersatu dengan orang lain merupakan pendorong yang sangat kuat bagi individu untuk membentuk suatu hubungan yang kuat, stabil, dan terpelihara dengan baik (Papalia dkk, 2001).

Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa intimasi adalah hubungan interpersonal yang berkembang dari hubungan timbal balik antara dua individu yang terwujud melalu saling berbagi perasaan, pikiran, saling membuka diri, dan menerima satu sama lain.         

Sumber:

 

Siswanto. 2007. Kesehatan mental; konsep, cakupan, dan perkembangannya. Yogyakarta: C.V Andi Offset

 

http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html

 

http://eprints.undip.ac.id/10947/1/SKRIPSI.pdf

 

http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/hubungan-interpersonal.htm

 

http://nilam.staff.gunadarma.ac.id/Downloads 

 

Nama       : Annisa Riska Medita

Kelas        : 2PA09

NPM         : 10512977

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: